0

TAHUN BARU MASEHI MENURUT PANDANGAN ISLAM

Posted by Unknown on 2/04/2014 01:34:00 PM


           
 

              Tahun baru adalah suatu perayaan di mana suatu budaya merayakan berakhirnya masa satu tahun dan menandai dimulainya hitungan tahun selanjutnya. Budaya yang mempunyai kalender  tahunan semuanya mempunyai perayaan tahun baru. Hari tahun baru di Indonesia jatuh pada tanggal 1 Januari karena Indonesia mengadopsi kalender Gregorian, sama seperti mayoritas negara-negara di dunia.

SEJARAH TAHUN BARU MASEHI
                Sejak Abad ke-7 SM bangsa Romawi kuno telah memiliki kalender tradisional. Namun kalender ini sangat kacau dan mengalami beberapa kali perubahan. Sistem kalendar ini dibuat berdasarkan pengamatan terhadap munculnya bulan dan matahari, dan menempatkan bulan Martius (Maret) sebagai awal tahunnya.
                Pada tahun 45 SM Kaisar Julius Caesar mengganti kalender tradisional ini dengan Kalender Julian. Urutan bulan menjadi: 1) Januarius, 2) Februarius, 3) Martius, 4) Aprilis, 5) Maius, 6) Iunius, 7) Quintilis, 8) Sextilis, 9) September, 10) October, 11) November, 12) December. Di tahun 44 SM, Julius Caesar mengubah nama bulan “Quintilis” dengan namanya, yaitu “Julius” (Juli).
                Sementara pengganti Julius Caesar, yaitu Kaisar Augustus, mengganti nama bulan “Sextilis” dengan nama bulan “Agustus”. Sehingga setelah Junius, masuk Julius, kemudian Agustus. Kalender Julian ini kemudian digunakan secara resmi di seluruh Eropa hingga tahun 1582 M ketika muncul Kalender Gregorian.
                Januarius (Januari) dipilih sebagai bulan pertama, karena dua alasan. Pertama, diambil dari nama dewa Romawi “Janus” yaitu dewa bermuka dua ini, satu muka menghadap ke depan dan yang satu lagi menghadap ke belakang. Dewa Janus adalah dewa penjaga gerbang Olympus. Sehingga diartikan sebagai gerbang menuju tahun yang baru.
                Kedua, karena 1 Januari jatuh pada puncak musim dingin. Di saat itu biasanya pemilihan konsul diadakan, karena semua aktivitas umumnya libur. Di bulan Februari konsul yang terpilih dapat diberkati dalam upacara menyambut musim semi yang artinya menyambut hal yang baru. Sejak saat itu Tahun Baru orang Romawi tidak lagi dirayakan pada 1 Maret, tapi pada 1 Januari. Tahun Baru 1 Januari pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM.
                Orang Romawi merayakan Tahun Baru dengan cara saling memberikan hadiah potongan dahan pohon suci. Belakangan, mereka saling memberikan kacang atau koin lapis emas dengan gambar Dewa Janus. Mereka juga mempersembahkan hadiah kepada kaisar.

PERAYAAN TAHUN BARU ZAMAN DULU
                Seperti kita ketahu, tradisi perayaan tahun baru di beberapa negara terkait dengan ritual keagamaan atau kepercayaan mereka—yang tentu saja sangat bertentangan dengan Islam. Contohnya di Brazil. Pada tengah malam setiap tanggal 1 Januari, orang-orang Brazil berbondong-bondong menuju pantai dengan pakaian putih bersih. Mereka menaburkan bunga di laut, mengubur mangga, pepaya dan semangka di pasir pantai sebagai tanda penghormatan terhadap sang dewa Lemanja—Dewa laut yang terkenal dalam legenda negara Brazil.
                Seperti halnya di Brazil, orang Romawi kuno pun saling memberikan hadiah potongan dahan pohon suci untuk merayakan pergantian tahun. Belakangan, mereka saling memberikan kacang atau koin lapis emas dengan gambar Janus, dewa pintu dan semua permulaan. Menurut sejarah, bulan Januari diambil dari nama dewa bermuka dua ini (satu muka menghadap ke depan dan yang satu lagi menghadap ke belakang).
                Sedangkan menurut kepercayaan orang Jerman, jika mereka makan sisa hidangan pesta perayaan New Year’s Eve di tanggal 1 Januari, mereka percaya tidak akan kekurangan pangan selama setahun penuh. Bagi orang kristen yang mayoritas menghuni belahan benua Eropa, tahun baru masehi dikaitkan dengan kelahiran Yesus Kristus atau Isa al-Masih, sehingga agama Kristen sering disebut agama Masehi. Masa sebelum Yesus lahir pun disebut tahun Sebelum Masehi (SM) dan sesudah Yesus lahir disebut tahun Masehi.
                Pada tanggal 1 Januari orang-orang Amerika mengunjungi sanak-saudara dan teman-teman atau nonton televisi: Parade Bunga Tournament of Roses sebelum lomba futbol Amerika Rose Bowl dilangsungkan di Kalifornia; atau Orange Bowl di Florida; Cotton Bowl di Texas; atau Sugar Bowl di Lousiana. Di Amerika Serikat, kebanyakan perayaan dilakukan malam sebelum tahun baru, pada tanggal 31 Desember, di mana orang-orang pergi ke pesta atau menonton program televisi dari Times Square di jantung kota New York, di mana banyak orang berkumpul. Pada saat lonceng tengah malam berbunyi, sirene dibunyikan, kembang api diledakkan dan orang-orang menerikkan “Selamat Tahun Baru” dan menyanyikan Auld Lang Syne.Di negara-negara lain, termasuk Indonesia? Sama saja!
                Bagi kita, orang Islam, merayakan tahun baru Masehi, tentu saja akan semakin ikut andil dalam menghapus jejak-jejak sejarah Islam yang hebat. Sementara beberapa pekan yang lalu, kita semua sudah melewati tahun baru Muharram, dengan sepi tanpa gemuruh apapun.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgq7lMKos1ue9Cpii3on_gpACQhr3-nzGkTlhMKK0Pnr-r2oWlpG3p_4JTg0WhFy8HwEO8WV5atJIATuO8olxrbVUbTWXWHwORLvGD3oG9Q_XaY1l7x-nqJ6jFZbKY4C7ADoi4_ZKYwSXU/s1600/Tahun-Baru-MAsehi-Haram-Bagi-Umat-Islam.jpg

MENURUT PANDANGAN ISLAM PERAYAAN MALAM TAHUN BARU
                Firman Allah SWT dalam surah al-Furqan ayat 72, yang artinya: “Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.”
                Dalam ayat tersebut terdapat kata “al-Zur” (perbuatan-perbuatan yang tidak berfaidah). Menurut Ulama Tafsir, maksud al-Zur adalah perayaan-perayaan orang kafir (Ibn Kasir, 6/130). Jelas dari pada ayat ini Allah melarang kaum muslimin menghadiri perayaan kaum muyrikin.
                Hadis Sahih al-Bukhari dan Muslim berikut ini, sabda Rasulullah SAW yang artinya: “Sesungguhnya bagi setiap kaum (agama) ada perayaannya dan hari ini (Idul adha) adalah perayaan kita”. Oleh Syekh Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan maksud hadis tersebut bahwa dilarang melahirkan rasa gembira pada perayaan kaum musyrikin dan meniru mereka (dalam perayaan). (Fathul Bari, 3/371).
                Melihat pandangan Islam, tidak ada celah sedikit pun bagi umat Islam untuk ikut merayakan atau sekadar untuk mengucapkan “happy new years”.
                Pada kenyataannya, pada malam tahun baru dihiasi dengan berbagai hiburan yang menarik dan sayang untuk dilewatkan. Muda-mudi tumpah ruah di jalanan, berkumpul di pusat kota menunggu pukul 00.00, yang seolah-olah dalam pandangan sebagian orang “haram” untuk dilewatkan.
                Sudah sepantasnya umat Islam menghidupkan kembali syiar-syiar Islam. Jika tidak tradisi Islam akan tergerus tanpa ada yang peduli. Kita semua ini manusia yang harus taat dan menjunjung tinggi aturan Allah. Tidak ada alasan untuk menafikan syiar-syiar Islam. Pantaskah kita menenggelamkan syiar Islam dan menghidupkan syiar budaya Barat?

TAHUN BARU DALAM PANDANGAN SYARIAT ISLAM
                 Moment pergantian tahun begitu sangat dinantikan oleh setiap orang.
Tak jarang diantara mereka yang menyambutnya dengan berpesta ria, meniup
terompet didetik-detik terakhir pergantian tahun dan lain-lain. Seakan moment
tahun baru merupakan moment istimewa yang tak boleh terlewatkan.
                Lalu, bagaimana pandangan menurut kaca mata syar’I dalam hal ini ?
                Benarkah tahun baru harus kita sambut dengan sepecial? Semisal saling
mengucapkan ucapan selamat, lewat lisan atau tulisan yang kita tulis di kartu
ucapan tahun baru. Sedemikian istimewakah makna tahun baru bagi umat manusia?
Coba perhatikan pernyataan Al - Imam Ibnu Tammiyah radhiaallahu anhu. “ Adapun mengucapkan selamat terhadap syiar-syiar keagamaan orang-orang kafir yang khusus bagi mereka, maka hukumnya haram menurut kesepakatan para ulama, seperti mengucapkan selamat terhadap
hari-hari besar mereka dan puasa mereka, seperti mengucapkan ‘ semoga hari
besar ini diberkahi atau ucapan semisalnya dalam rangka hari besar tersebut…”
                 Sedang Umar bin Khatab ra berkata, terkait dengan momentum tahun baru
Masehi atau hari-hari besar lain yang merupakan hari-hari besar orang-orang
Yahudi dan Nasrani. “ Janganlah kalian mengunjungi kaum Musyrikin di
gereja-gereja ( rumah-rumah ibadah) mereka pada hari besar mereka, karena
sesungguhnya kemurkaan Allah akan turun atas mereka” (HR. Al Baihaqi, no:18640) “ Hindarilah musuh-musuh Allah pada momentum hari-hari besar mereka” (HR.Ibid. no:18641)
                 Dari kedua hadist tersebut, jelaslah sudah kalau mengucapkan selamat atau
ikut serta dalam merayakan hari-hari besar kaum musyrikin ( Tahun baru, Natal,
Valentine,dll) hukumnya haram dilakukan oleh umat Islam. Karena moment tahun
baru atau moment-moment lainnya merupakan pencampuradukan antara Al Haq dan
kebathilan. Yang lebih banyak nilai mudharatnya, ketimbang sisi positifnya.
                Sebagai umat Islam tentunya kita harus konsekwen terhadap
keyakinan/akidah yang kita anut, karena sesungguhnya merayakan moment tahun
baru itu bukanlah budaya Islam, jadi janganlah sekali-kali terpengaruh dan
mengadopsinya menjadi bagian dari budaya kaum muslimin.
                “ Sebagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu
kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri
mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.” ( QS. Al-Baqarah:109)
                Coba perhatikan ayat tersebut ! Sesungguhnya, moment tahun baru itu salah
satu tipu muslihat orang-orang musyirikin untuk menyesatkan kaum muslimin dari
jalan kebenaran, jalan yang penuh dengan cahaya rahmat dan karunia-Nya. Karena
sejatinya, kaum musyirikin itu mengetahui kalau agama Islam adalah agama yang
rahmatan lil’alamin, sehingga hati mereka menjadi dengki dan berusaha
mengembalikan keyakinan kaum muslimin pada kekafiran agar jauh dari cahaya
Allah.
                 “ Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mentaati orang-orang kafir
itu, niscaya mereka akan mengembalikanmu kebelakang ( Kepada kekafiran), lalu
jadilah kamu orang-orang yang merugi.” (QS. Ali Imron:149)
                Sahabatku, apakah kita mau menjadi orang-orang yang merugi? Tentunya, tak ada
seorang pun diantara kita yang ingin menjadi orang yang merugi dan amal
ibadahnya tertolak oleh Allah Swt. Kalau demikian, mari bersama-sama bersiaga
dalam menghalau datangnya budaya kaum musyirikin yang mereka proklamirkan lewat
liberalisme, modernitas dan premisivisme budaya.
                Pada momentum tahun baru hendaknya kita isi dengan dzikir dan takhmid kepada
Allah, karena ini jauh lebih baik ketimbang merayakannya dengan berpesta pora.
Melakukan taffakur panjang, sangat dianjurkan sebagai bahan renungan dan cermin
terhadap eksistensi kita dalam menjalankan dan menegakan syariat Islam selama
satu tahun. Mencoba mengingat balik amalan ibadah yang telah kita lakukan
selama ini, sudah baikkah kuantitas ibadah kita ? Berapa umur kita sekarang?
Masihkah kita bisa menikmati kehidupan untuk satu tahun yang akan datang?
Karena setiap waktu bergulir, maka jatah hidup kita pun berkurang.
                Seperti perkataan Iman Soyfan Tsauri “ Sesungguhnya, aku sangat
menginginkan satu tahun saja dari seluruh usiaku, seperti Ibnu Mubarak. Tapi
aku tak mampu melakukannya, bahkan dalam tiga hari sekalipun.” (Nuzhatul Fudhala,2/655)
                Hidup didunia hanya selayang pandang, ia begitu singkat…sesingkat kilat.
Sehingga kita harus memanfaatkan waktu yang ada dengan sefisien mungkin untuk
beribadah, karena itulah hakikat hidup manusia didunia. Untuk melakukan amal
sholeh dan beribadah kepada Allah Swt.
  Bahkan Rasulullah pun bersabda terkait dengan umur manusia. “ Umur umatku
antara 60 sampai 70 tahun” (HR. Turmudzi).
                Jadi, mari kita bersama-sama memanfaatkan waktu yang tersisa dan
meningkatkan kuantitas ibadah kita kepada Allah Swt. Menjadikan momentum tahun
baru untuk mengingat mati. Bayangkan…renungkan! Bekal apa yang sudah kita
persiapkan untuk kehidupan diakhirat nanti. Apakah kita akan dimasukan kedalam
golongan yang menempati Surga-Nya, sudah cukupkah bekal kita ?
                Sahabatku, selagi masih ada waktu mari kita berbenah diri sebelum semuanya
menjadi terlambat.





0

SERTIFIKAT SEMINAR SERPIHAN HATI "CEGAH VIRUS MERAH JAMBU SEJAK DINI"

Posted by Unknown on 2/04/2014 12:32:00 PM


0

SERTIFIKAT WORKSHOP "NOTEBOOK TUNING & TROUBLESHOOTING"

Posted by Unknown on 2/04/2014 12:05:00 PM


0

SERTIFIKAT SEMINAR HIV AIDS "SUPPORT FOR HIV / AIDS PATIENT"

Posted by Unknown on 2/04/2014 11:58:00 AM


0

JADILAH SEORANG PEMIMPI, SEBELUM MENJADI SEORANG PEMIMPIN

Posted by Unknown on 1/11/2014 08:59:00 PM


          



            Kata Pemimpin mungkin sudah tidak asing lagi ditelinga kita. What’s the Leader? Yes. Alright, Tentu saja yang terbesit di hati kita adalah orang yang memiliki pangkat atau jabatan tinggi yang mampu mengatur juga mampu dijadikan panutan bagi orang lain yang berada dibawahnya.
            Nah seorang Pemimpin tidak harus memiliki semua hal yang menyangkut materi, kharisma, kecerdasan, dll. Tapi Pemimpin sesungguhnya adalah seseorang yang mampu dijadikan panutan serta mampu memberikan manfaat kepada orang lain.

Siapa Bilang Setiap Orang Tidak Mampu Jadi Pemimpin.?
            Salah besar !! setiap orang berkesempatan 100% untuk menjadi seorang pemimpin. Asalkan, orang tersebut mau terus belajar dan belajar untuk tidak egois. Kenapa disini saya katakan egois ? ya, tidak jarang ketika seseorang telah dianugerai kesempatan untuk menjadi seorang yang mampu menjadi panutan untuk orang lain, ia justru lalai. Bahkan terkesan lupa dengan tugas seorang pemimpin sesungguhnya. yaitu mampu mendengar juga menerima kritik serta saran untuk kepemimpinannya agar mampu menjadi seorang pemimpin yang lebih baik lagi. 

Every Person is a LEADER

            Setiap orang adalah pemimpin. Pemimpin untuk dirinya sendiri. Sebelum seseorang menjadi pemimpin untuk orang lain, ia harus lulus menjadi pemimpin untuk dirinya sendiri baik dalam lingkup pribadi maupun sosial. Siapa lagi yang mengatur diri ini jika bukan diri kita sendiri?
            Menjadi pemimpin untuk diri sendiri tidaklah mudah. Jika kita menjadi pemimpin tunggal bagi diri kita sendiri tanpa ada kepemimpinan orang lain didalamnya. Tentu saja sulit. Kita akan terus jalan ditempat tanpa ada perubahan dan kemajuan, karena kita enggan mendengarkan nasihat orang lain untuk diri kita. Terlebih lagi pelanggaran-pelanggaran yang kita lakukan akan semakin banyak setiap harinya tanpa adanya awasan dari orang lain. Tapi tentu saja diluar itu semua kita jauh lebih mengerti dan lebih tau tentang diri kita sendiri daripada orang lain. Jadi lakukanlah yang terbaik untuk diri kita, sebelum melakukan yang terbaik untuk orang banyak.
            Sesungguhnya setiap manusia dilahirkan menjadi seorang pemimpin, karena Anda telah menjadi pemenang diantara 200 juta sel sperma dan setiap manusia akan dimintai pertanggung jawabannya atas apa yang  dipimpinnya.
            So, tunggu apa lagi. Belajarlah menjadi seorang pemimpin yang bertanggung jawab mulai sekarang.
 
Siapkah Kalian Menjadi Seorang Pemimpin ?
            Seorang pemimpin harus tangguh. Karena ditangannya lah masa depan serta perubahan akan muncul. Awalnya yang terbesit dalam benak saya, jadi seorang pemimpin itu luar biasa nikmatnya. Why ? karena seorang pemimpin hanya duduk manis mendengar semua keluh kesah bawahannya tanpa melakukan suatu tindakan pasti. Namun seiring berjalannya waktu, kini saya mengerti. Bahwa pemimpin itu butuh kesiapan lahir dan batin yang luar biasa. Kesiapan untuk terjun ke lapangan. Menyampaikan apa yang telah menjadi tugasnya dan siap menerima apapun konsekuensinya. Namun terkadang, tidak saja dukungan yang didapatnya. Bisa jadi protes dan ketidaksukaan dari rakyatnya mewarnai kepemimpinannya. Benar-benar besar tanggung jawab seorang pemimpin itu.

 
Pemimpin Itu Berawal Dari Seorang Pemimpi
            You can to be a leader if you want to be a dreamer. Begitu banyak pesan yang saya dengar. Dan itu cukup membuat saya prihatin. Kebanyakan orang tua mengatakan kepada anaknya “jangan kebanyakan bermimpi, mimpi itu tidak akan bisa menjadikan kamu seorang pemimpin!!”. Opini tersebut 70% salah menurut saya. Pemimpin dan pemimpi itu beda tipis. Perbedaannya hanya terletak di huruf “N” dan N disana adalah Niat. Seorang pemimpi bisa jadi seorang pemimpin, asalkan mimpi-mimpi yang mereka miliki menjadikan mereka termotivasi dan memiliki niat untuk terus bangkit dan mau mengejar semua mimpi-mimpi mereka. Arti pemimpi sebenarnya bukan berati seseorang yang setiap waktu hanya menghabiskan waktunya untuk bermimpi tanpa ada niat sedikitpun untuk mampu meraih mimpi-mimpi mereka. Orang yang seperti itulah yang takkan pernah menjadi seorang pemimpin. 

Gantungkan Mimpi Dan Cita - Cita Mu Setinggi Mungkin
            Siapa bilang jika kita terlalu tinggi menggantungkan mimpi dan cita-cita kita, justru akan  membuat kita sakit saat terjatuh dan gagal menggapai mimpi itu. Coba saja kita pikirkan, orang yang menggantungkan cita-cita mereka setinggi-tingginya, saat mereka jatuh, mereka tidak akan langsung merasakan sakitnya terjatuh, tapi mereka akan melayang-layang terlebih dahulu sebelum terjatuh. 


Dibandingkan dengan orang yang tidak mau menggantungkan mimpi mereka setinggi-tingginya. Ketika mereka berusaha menggapainya, dan akhirnya terjatuh. Maka mereka akan langsung merasakan sakit tanpa sempat melayang. Tapi intinya, bukan soal melayang tapi Niat kita untuk terus bangkit dan belajar ketika kita jatuh. Jadilah seorang pemimpi untuk mampu menjadi seorang pemimpin. 

Hari Ini Juga Indonesia Butuh Seorang Pemimpin Yang Lebih Baik, Dan Kalian Lah Kandidatnya !!
            Kita semua adalah para kandidat calon pemimpin Indonesia. Oleh karena itu Niatkan dari sekarang merubah semua mimpi – mimpi kita menjadi nyata. Tentunya tidak harus terjun langsung dalam bidang politik agar bisa masuk ke bursa Capres 2014 ya.!! Melainkan mampu memenuhi tanggung jawab yang diamanatkan untuk kita. Contoh saja, jika kita pelajar. Maka penuhilah tanggung jawab kita sebagai pelajar. Yaitu tekun dan giat belajar agar kelak, jika sudah tiba saatnya, akan ada tanggung jawab besar yang memang pantas diamanatkan kepada kita yang telah mampu memenuhi tugas dan tanggung jawab kita sebelumnya.
            Nah. Menggaris bawahi persoalan kepemimpinan di negara kita tercinta Indonesia ini. Bagaimana menurut kalian ? Saya sempat mengutip dari sebuah surat kabar Online,
           
            “liputan6.com, Jakarta  : Emosi Wakil Gubernur DKI Jakarta semakin diuji. Kali ini terjadi ketika lelaki yang akrab disapa Ahok itu menyatakan lebih mementingkan untuk menyelamatkan nyawa seorang pasien daripada memperbaiki akhlak pejabat atau bawahannya di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
pernyataan ini dipaparkan Ahok dalam sebuah seminar kesehatan di Rumah Sakit Husada, Jakarta Pusat.”
            Nah jangankan kita yang berdiri sebagai rakyat. Para petinggi-petinggi penting di Indonesia saja sudah bosan dengan sikap kepemimpinan zaman sekarang yang terkesan tidak sesuai dengan tanggung jawab yang diamanatkan oleh rakyat mereka.
            Pemimpin sebenarnya sekali lagi bukan terletak pada jabatan serta atribut yang digunakannya. Melainkan pengakuan dari orang yang dipimpinnya. Pengakuan itu meliputi aspek kepercayaan Rakyat terhadap Pemimpinnya, serta sejauh mana Pemimpin tersebut tangguh menggenggam semua aspirasi rakyat serta merealisasikannya melalui tindakan.
            Saat ini Rakyat membutuhkan seorang Pemimpin yang mampu mencintai Rakyatnya melebihi cintanya kepada dirinya sendiri. Namun rasanya belum didapati Pemimpin yang seperti itu. Sungguh ironi Negeriku ini.
            Indonesia membutuhkan seorang Pemimpin yang mau berdiri di barisan terdepan, membela rakyatnya sampai titik darah penghabisan. Pemimpin yang tidak terbang saat dipuji dan tidak tumbang saat dicaci.
            Seperti halnya kepemimpinan dalam Islam. Zaman dahulu, ketika Nabi Muhammad Saw. Memimpin. Beliau begitu memperhatikan umatnya. Bahkan baginya, pantang untuk makan jika rakyatnya tidak makan. Subhanallah. Bahkan beliau memperjuangkan umat dan agama Islam sampai melakukan perang pertumpahan darah.
            Disebutkan sebuah kisah pada zaman Rasulullah,

          
            Pada saat itu Nabi Muhammad mendapatkan sebuah wahyu yang isinya disebutkan bahwa agama islam telah sempurna.
            Hal tersebut tertera dalam surat Al-Ma’idah : 3. “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.”
            Seluruh Sahabat Nabi sangat bahagia mendengar hal tersebut. Namun, tidak dengan Abu Bakar As-Shidiq. Beliau justru terlihat bersedih. Lalu salah seorang Sahabat mendekatinya, dan bertanya “Wahai Abu Bakar, mengapa engkau terlihat murung dan bersedih”. Lalu abu bakar menjawab “bagaimana aku tak sedih, dengan telah disempurnakannya agama islam, maka akan muncul berbagai permasalahan – permasalahan baru yang akan terjadi”. 


            Nah, permasalahan seperti apa yang dimaksudkan dalam cerita tersebut ? zaman dahulu ketika Nabi Muhammad menjadi pemimpin, Rakyat patuh dan tunduk terhadap perintahnya. Beliau begitu memperhatikan rakyatnya. Namun sepeninggal Nabi Muhammad, dan kepemimpinan diambil alih oleh para sahabat. Pertentangan semakin banyak terjadi.  
            Apalagi di zaman sekarang ini, bukan hanya pertentangan yang terjadi. Tapi pemimpin yang berkuasa sudah jauh dari kata layak untuk dijadikan sebagai pemimpin. Tidak ada lagi pemimpin yang bisa dijadikan panutan serta mampu memberi petunjuk bagi rakyatnya.
            Seperti yang di jelaskan dalam surat As-Sajdah : 24 “Dan kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami”
            Nah belajar dari berbagai permasalahan yang kini muncul mengenai kepemimpinan. Masih adakah niat dari hati kecil kita untuk berperan dalam rangka menggerakkan dan merubah negeri kita ini menjadi lebih baik lagi ? saya harap kita semua masih akan terus bermimpi dan berniat mewujudkan mimpi-mimpi itu menjadi nyata. Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab dan mampu dijadikan panutan oleh orang - orang yang kita pimpin. Tentunya tetap berkiblat kepada kepemimpinan yang dicontohkan Rasul kita, Nabi Muhammad Saw.
            Tak ada kata terlambat untuk menjadi seorang pemimpin, Bermimpilah, gantungkan mimpi kalian setinggi mungkin. Dan Niatkan untuk menggapai mimpi itu Lewat jalan yang diridhai Allah. You Can !!


Copyright © 2009 My World is Your World All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.